GARDATIMURNEWS.CO | LANGSA – Momen sakral Hari Raya yang seharusnya diwarnai kebahagiaan justru berubah menjadi kekecewaan bagi warga Kota Langsa. Di saat kebutuhan air bersih meningkat drastis untuk memasak, mencuci, hingga keperluan ibadah, aliran air dari PDAM justru mati total tanpa kepastian.
Keluhan warga pun meledak. Sejumlah masyarakat mengaku terpaksa mencari air ke tempat lain, bahkan membeli air dengan harga mahal demi memenuhi kebutuhan dasar saat Lebaran.
“Ini Hari Raya, bukan hari biasa. Air malah mati, kami harus cari ke sana-sini. Sangat mengecewakan,” ujar salah seorang warga Gampong Kapa, Kecamatan Langsa Timur, Kota Langsa dengan nada kesal.
Kondisi ini memicu kemarahan publik. Banyak warga menilai kinerja Plh Direktur PDAM Langsa tidak profesional dan terkesan abai terhadap kebutuhan masyarakat, terutama di momen penting seperti Hari Raya. Pasalnya, gangguan air bersih bukan kali pertama terjadi, namun berulang tanpa solusi yang jelas.
Ironisnya, hingga kini belum ada penjelasan resmi yang memuaskan dari pihak Plh Direktur PDAM Tirta Keumuning Langsa terkait penyebab matinya distribusi air tersebut. Minimnya transparansi ini semakin memperkeruh situasi dan menimbulkan tanda tanya besar di tengah masyarakat.
“Kalau memang ada perbaikan atau gangguan, kenapa tidak disampaikan sejak awal? Jangan masyarakat yang selalu jadi korban,” tambah warga lainnya.
Air bersih merupakan kebutuhan mendasar yang tidak bisa ditawar, terlebih di hari besar keagamaan. Ketika layanan vital seperti ini gagal dipenuhi, wajar jika publik mempertanyakan keseriusan dan tanggung jawab pihak Plh Direktur sebagai pengelola.
Peristiwa ini menjadi tamparan keras bagi PDAM Langsa. Di tengah harapan masyarakat akan pelayanan maksimal, justru yang terjadi adalah krisis air di hari yang paling penting bagi umat.
Jika kondisi ini terus berulang tanpa evaluasi dan perbaikan nyata, bukan tidak mungkin kepercayaan masyarakat terhadap layanan PDAM akan runtuh sepenuhnya. (RANY)
