GARDATIMURNEWS.CO | ACEH TENGAH – Himpunan Mahasiswa Aceh Tengah (HIMA-ATE) menggelar aksi damai di kawasan Tugu Simpang Lima, Kampung Merah Mersa, Kecamatan Lut Tawar, Kabupaten Aceh Tengah, Kamis (19/3/2026) sore. Aksi ini mengangkat isu nasional terkait kasus penyiraman air keras terhadap aktivis HAM Andrei Yunus, serta berbagai persoalan lokal di Aceh Tengah.
Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 16.00 WIB tersebut dipimpin oleh Maulana Alvarisi, mahasiswa Politeknik Lhokseumawe, sebagai penanggung jawab, dengan Sarjan Padli, mahasiswa Universitas Malikussaleh (Unimal), bertindak sebagai koordinator lapangan. Aksi diikuti oleh sekitar enam orang mahasiswa.
Sebelum aksi dimulai, para peserta terlebih dahulu berkumpul di Taman Inen Mayak Teri sekitar pukul 15.30 WIB untuk melakukan persiapan. Massa kemudian bergerak menuju lokasi aksi dengan membawa sejumlah alat peraga, di antaranya sekitar 20 lembar selebaran bertuliskan “Kami Bersama Andri Yunus”, satu spanduk bertuliskan “Jeritan Masyarakat dari Pelosok Negeri Aceh Tengah #Aceh Tengah Belum Pulih”, serta satu unit pengeras suara.

Dalam aksi tersebut, Maulana Alvarisi membacakan petisi yang menyoroti kasus penyiraman air keras terhadap Andrei Yunus. Ia menegaskan bahwa aksi tersebut merupakan bentuk solidaritas dan suara keadilan.
“Hari ini kita berdiri bukan hanya sebagai individu, tetapi sebagai suara bersama—suara kemanusiaan dan keadilan. Penyiraman air keras bukan sekadar serangan fisik, tetapi upaya membungkam dan merampas rasa aman seseorang,” ujarnya.
Ia juga mengajak seluruh pihak untuk tidak diam terhadap ketidakadilan. “Keadilan harus diperjuangkan, dimulai dari keberanian untuk bersuara,” tambahnya.

Sementara itu, dalam orasinya, Sarjan Padli mendesak aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas kasus tersebut secara transparan dan profesional. Ia juga menolak segala bentuk impunitas serta menuntut perlindungan maksimal bagi korban, keluarga, dan saksi.
“Negara wajib hadir dan memastikan tidak ada lagi kekerasan terhadap aktivis, karena ini merupakan ancaman serius bagi demokrasi dan kebebasan berpendapat,” tegasnya.
Selain isu nasional, massa aksi juga menyoroti persoalan lokal terkait penanganan bencana di Aceh Tengah. Dalam orasinya, Rudi menyampaikan kekecewaan terhadap lambannya penanganan pascabencana yang terjadi pada akhir November 2025 lalu.
Ia menyoroti kondisi masyarakat terdampak yang hingga kini belum sepenuhnya mendapatkan bantuan, terutama menjelang Hari Raya Idul Fitri.
“Di tengah persiapan lebaran, masih banyak masyarakat yang rumahnya rusak akibat bencana dan belum mendapat perhatian serius. Ini menjadi catatan penting bagi pemerintah,” ujarnya.
Rudi juga menekankan pentingnya keberlanjutan pembangunan serta pemulihan fasilitas masyarakat setelah masa tanggap darurat berakhir.
Aksi damai tersebut berakhir sekitar pukul 17.22 WIB dalam kondisi aman, tertib, dan lancar. (RANY)
